Tuesday, 11 January 2011

Book Review: Manjali dan Cakrabirawa

Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Negara: Indonesia
Cetakan / tahun: 1 / 2010
Tebal: 251 hlm (paperback)
Genre: Literary fiction - romance, mystery

Saya yang sudah cukup familiar dengan gaya Ayu Utami melalui Saman dan Larung, merasa mendapat angin segar dengan hadirnya Manjali dan Cakrabirawa. Belum, saya belum membaca Bilangan Fu. Waktu itu saya sedang akan pelesir ke benua orang sehingga saya harus memilih buku yang lebih tipis dan kira-kira isinya lebih ringan namun tetap asyik. Maka pilihan pun jatuh kepada buku ini.

Sebagai yang sudah pernah membaca novel-novel Dan Brown, sekilas saya merasa Manjali agak mirip-mirip. Misteri di dalam sejarah. Teka-teki di dalam artefak kuno. Menguak kebenaran yang tersembunyi di balik sejarah dan kepercayaan yang sengaja ditulis ulang. Dan memang benar, secara kasarnya memang itulah plot utama Manjali. Tapi tenang saja, novel ini jauh lebih punya "rasa" dibanding Dan Brown, dan yang jelas lebih Indonesia.

Secara halusnya, Manjali adalah buku sastra yang seperti bawang, yang memiliki banyak lapisan, yang wangi namun bisa menyengat mata. Ya, ada misteri. Ya, ada percintaan. Ya, ada sejarah. Ya, ada persahabatan. Dan ya, ada spiritualitas. Penulis sendiri menggambarkan Seri Bilangan Fu sebagai "roman spiritualisme kritis".

Lapisan luar bawang ini menghadirkan kisah cinta segitiga antara tokoh Yuda, Marja, dan Parang Jati. Tokoh Yuda, yang adalah "kekasih resmi" Marja, menitipkan pacarnya kepada sahabat mutual mereka, Parang Jati, karena Yuda hendak ikut latihan panjat tebing bersama anggota militer yang dibenci Jati. Maka tinggallah Marja dan Parang Jati, ditemani Jacques si arkeolog Perancis, di belantara hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Niat hendak meneliti sebuah candi misterius yang baru ditemukan mengirim mereka semakin dalam menembus lapisan-lapisan selanjutnya: legenda Calwanarang, konspirasi sejarah G30S/PKI, seluk-beluk rahasia candi-candi Jawa, dan serangkaian kebetulan aneh yang penuh misteri.

Cinta yang bersemi antara dua sahabat Marja dan Jati digambarkan dengan pas dan cukup realistis. Penulis tidak tampak terbawa emosi ketika menuliskannya, sebab masih dapat dirasakan ketegangan serta rasa tabu, rasa tertahan yang khas dari sebuah cinta yang tulus namun tak tercapai. Hanya saja, Marja yang beberapa kali digambarkan sebagai gadis 19 tahun dengan sifat kekanak-kanakan, tampak begitu dewasa dalam sebagian besar adegan. Tetapi mengenai alasannya, apakah ini merupakan inkonsistensi penutur cerita, ataukah memang Marja yang keluar kedewasaannya saat mesti ditinggal di hutan, saya serahkan kepada pembaca. Bagaimanapun, cerita cinta ini dirajut dengan manis; legenda-legenda kuno Calwanarang serta Rama dan Sita berganti-ganti diparalelkan dengan peristiwa masa kini, sehingga menghasilkan cerita yang terasa sureal dan seringkali transenden.

Satu hal yang agak membingungkan adalah prioritas problem dalam plot. Sekitar sepertiga awal cerita, pembaca akan mendapatkan kesan bahwa problem utama yang hendak dipecahkan oleh tokoh utama adalah mengenai sejarah candi yang mereka temukan, yang kemungkinan berkaitan dengan tokoh Calwanarang yang percaya-tidak-percaya. Mungkin pembaca akan mengharapkan keterlibatan sihir kuno, kutukan, hantu, dan seterusnya, yang memang sempat disodorkan sebagai premis awal. Di tengah-tengah, tersisiplah sedikit sejarah PKI; kaitan utamanya dengan legenda Calwanarang disebut-sebut berupa sebuah mantra sakti mandraguna bernama Bhairawa Cakra yang, tampaknya, kemudian dijadikan nama "Cakrabirawa", salah satu pasukan PKI. Namun lambat laun unsur sejarah ini mengambil alih suspense mitologis yang telah dibangun di awal; hasil akhir pada penutup lebih terfokus pada kenyataan pemutarbalikan serta penyembunyian sejarah daripada resolusi yang konkret mengenai misteri candi atau teka-teki hubungan tokoh Marja Manjali dengan Ratna Manjali, yang awalnya seolah memiliki hubungan mirip reinkarnasi yang erat. Pada akhir cerita, pembaca yang teliti mungkin akan merasakan sebuah ketidaksinambungan plot yang sedikit mengganggu.

Gaya khas Ayu Utami terlihat dari ketidakmalu-maluannya menggambarkan hal-hal seperti kotoran manusia, seks, dan birahi. Akan tetapi, hal-hal ini sangat relevan dengan alur cerita; tidak ada tanda-tanda seolah fiksi erotik yang dipaksakan sebagai karya sastra; dan tentunya bukanlah balok utama yang membangun cerita. Tidak lupa buku ini juga menawarkan kritik atas agama di masyarakat, terutama kepercayaan kejawen dan takhayul ketimuran, serta pertanyaan-pertanyaan berani atas skandal G30S/PKI yang sampai sekarang masih belum jelas kebenarannya.

Buku ini menggugah rasa keingintahuan pembaca terutama mengenai sejarah dan legenda mistik tanah Jawa era Hindu-Buddha. Buku ini berupaya mengekspos candi-candi dan arca kuno yang sebenarnya menarik namun terlupakan.

Candi Belahan, sebuah candi petirtaan (pemandian) di Gunung Penanggungan.
Arca Syiwa Bhairawa, bentuk Dewa Syiwa yang konon paling kuat dan paling destruktif.


Kutipan paling memorable diutarakan oleh tokoh Jacques:

"Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita tetap percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?"

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?