Tuesday, 18 January 2011

Book Review: Tarian Bumi

Judul: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: IndonesiaTera
Negara: Indonesia
Cetakan / tahun: 4 / 2004
Tebal: 224 hlm (paperback)
Genre: Literary fiction - drama, sastra Indonesia lama

Sebagai sebuah karya sastra di zaman modern, "Tarian Bumi" menyuguhkan sebuah potret lain mengenai tata kehidupan masyarakat Bali, terutama berkenaan dengan perempuan dan sistem kasta. "Tarian Bumi" menghindari stereotipe klasik mengenai dunia timur yang banyak dianggap indah dan eksotis; Bali yang disebut-sebut sebagai Pulau Dewata, kini disajikan dengan warna yang berbeda, warna yang mengejutkan, tidak malu-malu, miris, dan ironis. Di balik misteri magis dan kemeriahan khas Bali, terdapat sebuah kenyataan gelap yang akan memberikan perspektif baru bagi siapapun yang berani menyaksikannya.

Adalah empat orang perempuan Bali dari empat generasi turun-temurun: Ida Ayu Sagra Pidada, Luh Sekar, Ida Ayu Telaga Pidada, dan Luh Sari. Masing-masing dengan latar belakangnya, pilihan hidupnya, dan masa depannya. Nasib menjebak mereka dalam adat-istiadat leluhur yang ketat sehingga setiap langkah mereka, bahkan cinta mereka, selalu dihantui oleh bayang-bayang kemalangan.

Sagra Pidada - Sang nenek. Perempuan brahmana yang patuh, lugu, dan berniat tulus dalam membantu suaminya menjadi seorang yang dipandang dalam pemerintahan. Dunianya runtuh ketika mengetahui suaminya ternyata memiliki perempuan simpanan, dan kegetirannya bertambah dengan kehadiran seorang putra yang maksiat dan menantu yang berkasta sudra.

Luh Sekar - Sang menantu. Berasal dari kasta sudra, Luh Sekar tumbuh menjadi gadis berkepribadian keras yang selalu mengikuti dorongan nafsunya. Luh Sekar bertekad mengangkat dirinya sendiri dari kemiskinan dengan cara menikahi seorang Ida Bagus, betapapun buruk tabiat laki-laki itu. Akan tetapi, derajat sosial Luh Sekar terukir pada batu; kehidupan barunya sebagai seorang Jero Kenanga menjadi sebuah campuran yang aneh antara kemakmuran yang dipaksakan dengan masa lalu pahit yang selamanya takkan pernah hilang.

Telaga - Sang putri. Cinta yang melawan dunia dan dewata bersemi antara Telaga sang brahmana dengan Wayan si sudra. Dengan gagah berani Telaga menanggalkan segala kebangsawanannya demi persatuan dengan suami terkasih. Namun ia menemukan bahwa tak semudah itu melarikan diri dari asal-usulnya sebagai kembang griya.

Luh Sari - Si kecil. Lahir dari sebuah kasih sejati, gadis kecil sudra ini sudah mengenal kerasnya hidup sejak belia. Kepolosannya bagaikan pedang kebenaran yang berdiri tegak mengatasi segala kelicikan takdir.

Tidak hanya keempat perempuan di atas, penulis juga menyertakan perempuan-perempuan lain yang berani, seperti Luh Kenten yang lesbian dan Luh Kambren serta petualangannya dengan pria kulit putih. Dinamika kaum Hawa ala Bali digambarkan dengan sangat baik; alur cerita yang dibuat berselang-seling dan agak meloncat-loncat mampu membuat pembaca lebih penasaran, maupun menjaga agar fokus tetap pada masalah perempuan-perempuan hebat ini. Penulis tidak banyak membuang waktu dengan detil-detil yang tidak perlu. Penulis juga dengan sukses menghindari nama-nama produk kontemporer barat yang merajalela di Bali, ataupun elemen-elemen kecil yang mungkin merujuk secara spesifik terhadap sebuah peristiwa aktual; ini membuat cerita terasa timeless sehingga dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja.

Kejujuran dijaga dalam setiap halaman. Kewanitaan tampil dalam berbagai bentuknya. Membaca "Tarian Bumi" seperti membuka-buka album foto seorang fotografer profesional; sebuah saksi gamblang yang hendak menyampaikan derita di balik senyum seorang penari nan sempurna.

“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kau simpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memiliki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tidak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.”

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?