Wednesday, 16 February 2011

Under the greater shadow

How hard it is to live under the greater shadow, a shadow that has brought you up and grown on you. The shade certainly protects you from the blazing sun, and yet you're expected to take the exact shape of that shadow.

Suddenly you find yourself in a dilemma. You know you can't stay in the shade forever. Someday you have to go out and dare the sun.

Sometimes I'm worried that my roots are weaker than I thought. That my leaves are fragile after having lived under such an amazing protection. Did I drink too much water? Did I engulf too much love that slowly corrupts me?

I'm fed up with things.

I, the foolish incapable little bird, want to go and embrace the breeze with my own wings.

Hello, Sun.

Sunday, 13 February 2011

Book Review: Tanah Tabu

Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Negara: Indonesia
Cetakan / tahun: 1 / 2009
Tebal: 240 hlm (paperback)
Genre: Literary fiction - drama

Dari beberapa ulasan di dunia maya yang saya baca tentang "Tanah Tabu", novel karangan Anindita S. Thayf ini merupakan Pemenang I sekaligus pemenang satu-satunya Sayembara Novel DKJ 2008. Ini jelas membuat saya penasaran: seperti apa sih isinya? Saya ingin tahu lebih banyak tentang novel yang dinilai sebagai satu-satunya yang layak diberi gelar pemenang. Wow. Maka dari itu, saya segera membelinya.

Ceritanya dinarasi secara bergantian oleh tiga tokoh: Leksi, Pum, dan Kwee. Leksi adalah anak perempuan Komen (orang asli Papua) dari suku Dani, berusia SD, yang penuh rasa ingin tahu, naif, dan suka keluyuran. Dia tinggal serumah dengan ibunya, Lisbeth (dipanggil "Mace") dan neneknya, Anabel (dipanggil "Mabel", alias "Mama Anabel"). Sehari-harinya Leksi menjalani sekolah dan permainannya ditemani oleh Pum dan Kwee, yang menjadi saksi kekejaman yang terjadi di atas Tanah Tabu.

Memang, seperti yang dikatakan oleh ulasan tersebut, salah satu daya tarik "Tanah Tabu" adalah setting ceritanya yang tidak biasa, yaitu di tanah Papua. Saya sudah bersiap-siap dibombardir dengan deskripsi panjang-lebar mengenai keindahan alam Papua, yang memang masih tergolong perawan bagi kebanyakan orang. Saya sendiri tidak keberatan, toh memang saya belum pernah ke Papua. Namun alih-alih, saya menemukan kesederhanaan. Gaya penceritaannya penuh empati lokal yang simpel dan blak-blakan, seolah-olah penulis sendiri memang pernah menetap cukup lama di Papua. Dia melihat dan menuturkan semuanya dari kacamata Komen sejati, bukan dari sudut pandang orang asing. Sungguh cantik dan menarik.

Bab pertama terasa masih mengambang. Mungkin karena tokoh-tokohnya tidak memperkenalkan diri secara gamblang, jadi saya pun agak meraba-raba. Tetapi selewat bab pertama, cerita mulai mengalir; ibarat gulungan perkamen bertuliskan dokumen kuno yang misterius, tiap halaman menyibak satu-persatu dan menunjukkan isinya yang makin lama makin menyedot perhatian. Cukup banyak permasalahan yang dibahas di buku ini, mulai dari kehadiran "para pendatang" yang mengeruk emas besar-besaran, sampai dengan pilkada yang lengkap dengan "tipu-tipu"-nya (meminjam bahasa Mabel). Bagian yang paling saya suka adalah yang pilkada ini; penulis menghadirkan jukstaposisi yang menyenangkan: bagaimana cerah-cerianya gambar dan warna-warni bendera partai ternyata menyembunyikan intrik-intrik pahit di belakang.

Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta kepada "Tanah Tabu", yaitu ukuran bukunya yang kecil. Bukannya saya tidak suka buku tebal dan besar. Tetapi, saya sering terkagum-kagum melihat buku yang kecil namun isinya padat. Seperti jagat raya yang dijejalkan ke dalam toples keripik tetapi masih enak dipandang maupun dinikmati. Buku-buku sejenis yang pernah saya baca contohnya "The Giver" oleh Lois Lowry, "Night" oleh Elie Wiesel, dan "Harimau! Harimau!" oleh Mochtar Lubis. Dan saya suka kesemuanya. "Tanah Tabu" patut ditambahkan ke dalam daftar ini.

Saturday, 12 February 2011

Surya Majapahit

Literally: "The Sun of Majapahit".

Majapahit was one of the greatest Hindu-Buddhist empires in Indonesia, Southeast Asia, and possibly in the whole world. It originated from Central Java, and under it, nations that are now modern Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei, Thailand, the Philippines, and East Timor united.

Ah, the good ol' past.




From the ever-omniscient Wikipedia: (bolds and purples are mine)

The most common depiction of Surya Majapahit consist of the images of nine deities and eight sun rays. The round center of the sun depicting nine Hindu gods called Dewata Nawa Sanga.

The major gods in the center is arranged in eight cardinal points around one god in the center. The arrangements are:
* Center: Shiva - the god of destruction, transformation, and union with the cosmos
* East: Isvara
* West: Mahadeva
* North: Vishnu - the god who supports, sustains, and governs the universe.
* South: Brahma - the progenitor and the great master of all human beings.
* Northeast: Sambhu
* Northwest: Sangkara
* Southeast: Mahesora
* Southwest: Rudra - god of the storm and the hunt

The minor deities located at the outer rim of the sun, symbolized by eight shining sun rays:
* East: Indra - King of the gods, god of wars, storms, and rainfalls
* West: Varuna - god of water and all its elements, especially the oceans
* North: Kuvera - lord of wealth
* South: Yama - ruler of the departed
* Northeast: Isana
* Northwest: Vayu - god of the winds 
* Southeast: Agni - god of fire, acceptor of sacrifices
* Southwest: Nrtti

Tuesday, 8 February 2011

Book Review: Rupa & Karakter Wayang Purwa


Judul: Rupa & Karakter Wayang Purwa
Penulis: Heru S. Soedjarwo, Sumari, Undung Wiyono
Penerbit: Kakilangit Kencana - Prenada Media Grup
Negara: Indonesia
Cetakan / tahun: 1 / 2010
Tebal: 1172 hlm (hardcover with box)
Genre: Non-fiction - Indonesian (Javanese) culture

Buku karya tiga serangkai Heru S, Sumari, dan Undung W ini merupakan gebrakan baru yang menyegarkan dalam dunia wayang. Bagi mereka yang menantikan kehadiran sumber referensi yang lengkap dan aktual mengenai pewayangan khususnya gaya Surakarta, maka inilah satu buku yang wajib dibeli.

Penyuguhan fisik buku yang rapi, diberi boks, serta dilengkapi CD wayang berwarna, akan memuaskan siapapun yang berjiwa perfeksionis. Gaya bahasa yang enak dibaca dan kalimat-kalimat yang luwes mengalir layaknya novel petualangan akan menarik pembaca yang terbiasa membaca cerita fiksi. Sementara kontennya yang cukup lengkap, penuh gambar dan deskripsi yang detil, menjiwai, serta setia pada khazanah budaya Jawa yang asli akan menyenangkan para sesepuh dunia pewayangan maupun mengusik minat generasi muda sebagai pemula (yang kepadanya buku ini ditujukan).

Buku ini bahkan juga sangat berguna bagi para calon orang tua yang ingin memberikan nama wayang untuk anak-anaknya. Sebab, penulis tidak lupa menyertakan nama-nama lain para tokoh wayang jika ada, misalnya Bima yang mempunyai alias antara lain Bratasena, Wijasena, dan Werkudara. Semua tokoh dilampirkan kisahnya, sehingga orang tua dijamin tidak akan salah memberi nama anak mereka.

Dari segi ilustrasi, buku ini pun menang. Gambar-gambarnya rapi dan bersih, bukan fotokopian atau unduhan dari internet, dan tidak juga digambar setengah hati. Bahkan terdapat pula gambar-gambar reka ulang dari adegan-adegan terkenal misalnya Arjuna dan Kresna yang sedang berkereta dalam Perang Bharatayudha, dan Garuda yang memberi tahu Rama dan Laksmana perihal penculikan Dewi Shinta, semuanya dalam bentuk wayang yang menarik. Kesungguhan para penyusun buku tampak dari segala aspek termasuk CD yang menyertainya, sehingga membuatnya pantas diacungi dua jempol (empat kalau bisa).

Saran saya, buku ini sebaiknya diterjemahkan juga ke dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya, supaya warisan budaya Indonesia yang dilindungi UNESCO ini semakin dikenal luas. (Saya bersedia jadi penerjemahnya, kalau Mas Heru mengizinkan)

Ditakuti oleh Waktu


"Men fear time, but time fears the pyramids." -Peribahasa Arab

Tidak hanya piramida. Beberapa hal di dunia ini memang ditakuti oleh Waktu.

Ditakuti oleh Waktu berarti sesuatu yang tak lekang oleh Waktu. Sesuatu itu bukannya tidak mengenal Waktu. Justru, karena sesuatu itu amat sangat mengenal Waktu, maka ia tahu banyak tentang karakter Waktu dan tahu benar bagaimana mengatasinya, serta mengalahkannya. Kau tidak bisa mengalahkan kalau tidak mengenal dengan baik.

Saya mendapatkan pemikiran ini saat sedang membaca sebuah majalah seni rupa Indonesia. Kertas majalahnya bagus, halamannya full colour, tapi kontennya tidak terlalu bagus kalau menurut saya (untung majalah ini gratisan). Bukan majalahnya sendiri, tetapi apa yang ditampilkan oleh majalah tersebut. Lukisan-lukisan. Patung-patung. Karya-karya seni seniman Indonesia modern. Saya bisa melihat teknik mereka bagus, sangat bagus malah, dan saya melihat imajinasi mereka memang tinggi.

Tetapi coba pikir. Mengapa karya-karya seni kuno, apapun bentuk dan mediumnya, apapun latar belakang senimannya, dapat melekat erat di benak orang bahkan sampai masa kini? Mengapa banyak karya seni modern yang sebenarnya mengandung talenta penuh, tampak hanya menyeberang begitu saja dalam cahaya panggung, dipertontonkan sebentar lalu menghilang seiring bertumbuhnya generasi baru manusia?

Mari kita lihat lukisan Impression, Sunrise karya Claude Monet ini:


Atau coba lihat Starry Night karya Vincent Van Gogh:


Atau mari berjalan lebih jauh ke belakang. The Creation of the Sun, Moon, and Plants karya Michelangelo yang menghiasi langit-langit Sistine Chapel:


Dan tentu saja, La Gioconda, yang terkenal dengan nama Mona Lisa, karya Leonardo da Vinci yang legendaris:


Dari seni sastra pun, kita bisa dengan mudah menyebutkan teks-teks klasik yang disanjung hingga sekarang. Contoh penulisnya: Jane Austen, Shakespeare, Charles Dickens, Brontë bersaudara, Mark Twain. Contoh judulnya: Pride and Prejudice, Romeo and Juliet, David Copperfield (bahkan diadopsi jadi nama panggung pesulap!), Wuthering Heights, The Adventure of Huckleberry Finn. Dari Indonesia kita punya Atheis, Salah Asuhan, Sitti Nurbaya. Dan jangan lupa, cerita-cerita rakyat, mitologi, dan dongeng-dongeng klasik. Bahkan kisah-kisah epik Ramayana dan Mahabharata, yang kemudian tersebar di Indonesia (khususnya Jawa) dalam bentuk wayang.

Jadi apa yang membuat karya-karya itu tak cepat dilupakan orang, and thus feared by time?
Apa saja karakter yang membuat sesuatu itu menjadi ditakuti oleh Waktu yang perkasa?

Teknik yang hebat? Ya, semua karya itu menampilkan teknik tertentu yang tidak biasa pada zamannya. Desain yang jenius? Ya dan tidak. Perupa seperti Michelangelo dan Bernini tentunya memang ahli dalam anatomi tubuh manusia, tetapi tidak bisa disebut jenius juga. Sedangkan karya-karya Van Gogh malahan terlihat seperti coretan krayon anak kecil yang bebas. Drama-drama Shakespeare sangat puitis dan penuh dengan soneta, sesuatu yang pasti tampak norak menurut standar zaman sekarang, tetapi toh hal menulis puisi memang lazim pada zaman itu. Lalu apanya?

Bukan teknik. Bukan juga desain. Kedua hal itu membantu, tetapi yang menentukan adalah: universality. Universalitas.

Semua hal yang timeless mengandung unsur yang universal. Kebenaran universal. Ia sarat emosi dan pemikiran, namun tidak meledak-ledak sesaat. Ia exceptional, namun dimengerti segala pihak dari segala generasi dan segala zaman. Ia baru, namun lama.

Yang saya maksud di sini adalah tema. Membawakan tema tentu saja dipengaruhi budaya lokal, pemikiran individual, perasaan saat itu. Tetapi temanya sendiri universal. Cinta. Keindahan. Kepahlawanan. Penciptaan. Keagungan Tuhan dan alam semesta. Kesederhanaan. Tema-tema ini bisa kita temukan di mana saja, dalam kitab suci agama manapun, dalam pewayangan, dalam tembang kanak-kanak, bahkan dalam tingkah polah fauna (pernah dengar spesies burung yang memberi makan anak-anak burung lain?).

Karya yang secara mentah-mentah menggambarkan kekecewaan terhadap pemerintah, misalnya, atau dengan penuh amarah membuat karikatur ketidakadilan terhadap rakyat miskin, dapat menjadi populer dalam waktu singkat tetapi durasinya juga amat, sangat singkat.

Jikalau ingin mengekspresikan sepenggal letupan emosi, sudah sepantasnya desain karya tersebut dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Go sleep on it. Let the idea sink in. Jangan segera merenggut kuas atau pena pada detik pertama terjadi luapan emosi. Galilah kebenaran utama dari ide mentah tersebut. Temukan sebuah pesan yang paling menggema dan dapat menyentuh khalayak di manapun dan kapanpun. Sebab sejarah berulang. Peristiwa aktual masa kini sudah pernah terjadi di masa lampau dan akan terjadi di masa yang akan datang. Sebab mereka berakar dari satu tema yang sama, dan tema inilah yang sebaiknya kita ekspresikan dalam karya kita, bukan melulu pada manifestasinya yang dapat mengambil berbagai wujud.

Waktu itu perlahan namun mematikan. Jika ingin mengalahkannya, apapun yang kita buat juga harus perlahan tapi pasti, dengan persiapan yang tenang dan matang serta goresan yang bertujuan, maka niscaya karya kita akan lebih mematikan daripada Waktu.