Tuesday, 8 February 2011

Ditakuti oleh Waktu


"Men fear time, but time fears the pyramids." -Peribahasa Arab

Tidak hanya piramida. Beberapa hal di dunia ini memang ditakuti oleh Waktu.

Ditakuti oleh Waktu berarti sesuatu yang tak lekang oleh Waktu. Sesuatu itu bukannya tidak mengenal Waktu. Justru, karena sesuatu itu amat sangat mengenal Waktu, maka ia tahu banyak tentang karakter Waktu dan tahu benar bagaimana mengatasinya, serta mengalahkannya. Kau tidak bisa mengalahkan kalau tidak mengenal dengan baik.

Saya mendapatkan pemikiran ini saat sedang membaca sebuah majalah seni rupa Indonesia. Kertas majalahnya bagus, halamannya full colour, tapi kontennya tidak terlalu bagus kalau menurut saya (untung majalah ini gratisan). Bukan majalahnya sendiri, tetapi apa yang ditampilkan oleh majalah tersebut. Lukisan-lukisan. Patung-patung. Karya-karya seni seniman Indonesia modern. Saya bisa melihat teknik mereka bagus, sangat bagus malah, dan saya melihat imajinasi mereka memang tinggi.

Tetapi coba pikir. Mengapa karya-karya seni kuno, apapun bentuk dan mediumnya, apapun latar belakang senimannya, dapat melekat erat di benak orang bahkan sampai masa kini? Mengapa banyak karya seni modern yang sebenarnya mengandung talenta penuh, tampak hanya menyeberang begitu saja dalam cahaya panggung, dipertontonkan sebentar lalu menghilang seiring bertumbuhnya generasi baru manusia?

Mari kita lihat lukisan Impression, Sunrise karya Claude Monet ini:


Atau coba lihat Starry Night karya Vincent Van Gogh:


Atau mari berjalan lebih jauh ke belakang. The Creation of the Sun, Moon, and Plants karya Michelangelo yang menghiasi langit-langit Sistine Chapel:


Dan tentu saja, La Gioconda, yang terkenal dengan nama Mona Lisa, karya Leonardo da Vinci yang legendaris:


Dari seni sastra pun, kita bisa dengan mudah menyebutkan teks-teks klasik yang disanjung hingga sekarang. Contoh penulisnya: Jane Austen, Shakespeare, Charles Dickens, Brontë bersaudara, Mark Twain. Contoh judulnya: Pride and Prejudice, Romeo and Juliet, David Copperfield (bahkan diadopsi jadi nama panggung pesulap!), Wuthering Heights, The Adventure of Huckleberry Finn. Dari Indonesia kita punya Atheis, Salah Asuhan, Sitti Nurbaya. Dan jangan lupa, cerita-cerita rakyat, mitologi, dan dongeng-dongeng klasik. Bahkan kisah-kisah epik Ramayana dan Mahabharata, yang kemudian tersebar di Indonesia (khususnya Jawa) dalam bentuk wayang.

Jadi apa yang membuat karya-karya itu tak cepat dilupakan orang, and thus feared by time?
Apa saja karakter yang membuat sesuatu itu menjadi ditakuti oleh Waktu yang perkasa?

Teknik yang hebat? Ya, semua karya itu menampilkan teknik tertentu yang tidak biasa pada zamannya. Desain yang jenius? Ya dan tidak. Perupa seperti Michelangelo dan Bernini tentunya memang ahli dalam anatomi tubuh manusia, tetapi tidak bisa disebut jenius juga. Sedangkan karya-karya Van Gogh malahan terlihat seperti coretan krayon anak kecil yang bebas. Drama-drama Shakespeare sangat puitis dan penuh dengan soneta, sesuatu yang pasti tampak norak menurut standar zaman sekarang, tetapi toh hal menulis puisi memang lazim pada zaman itu. Lalu apanya?

Bukan teknik. Bukan juga desain. Kedua hal itu membantu, tetapi yang menentukan adalah: universality. Universalitas.

Semua hal yang timeless mengandung unsur yang universal. Kebenaran universal. Ia sarat emosi dan pemikiran, namun tidak meledak-ledak sesaat. Ia exceptional, namun dimengerti segala pihak dari segala generasi dan segala zaman. Ia baru, namun lama.

Yang saya maksud di sini adalah tema. Membawakan tema tentu saja dipengaruhi budaya lokal, pemikiran individual, perasaan saat itu. Tetapi temanya sendiri universal. Cinta. Keindahan. Kepahlawanan. Penciptaan. Keagungan Tuhan dan alam semesta. Kesederhanaan. Tema-tema ini bisa kita temukan di mana saja, dalam kitab suci agama manapun, dalam pewayangan, dalam tembang kanak-kanak, bahkan dalam tingkah polah fauna (pernah dengar spesies burung yang memberi makan anak-anak burung lain?).

Karya yang secara mentah-mentah menggambarkan kekecewaan terhadap pemerintah, misalnya, atau dengan penuh amarah membuat karikatur ketidakadilan terhadap rakyat miskin, dapat menjadi populer dalam waktu singkat tetapi durasinya juga amat, sangat singkat.

Jikalau ingin mengekspresikan sepenggal letupan emosi, sudah sepantasnya desain karya tersebut dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Go sleep on it. Let the idea sink in. Jangan segera merenggut kuas atau pena pada detik pertama terjadi luapan emosi. Galilah kebenaran utama dari ide mentah tersebut. Temukan sebuah pesan yang paling menggema dan dapat menyentuh khalayak di manapun dan kapanpun. Sebab sejarah berulang. Peristiwa aktual masa kini sudah pernah terjadi di masa lampau dan akan terjadi di masa yang akan datang. Sebab mereka berakar dari satu tema yang sama, dan tema inilah yang sebaiknya kita ekspresikan dalam karya kita, bukan melulu pada manifestasinya yang dapat mengambil berbagai wujud.

Waktu itu perlahan namun mematikan. Jika ingin mengalahkannya, apapun yang kita buat juga harus perlahan tapi pasti, dengan persiapan yang tenang dan matang serta goresan yang bertujuan, maka niscaya karya kita akan lebih mematikan daripada Waktu.

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?