Sunday, 13 February 2011

Book Review: Tanah Tabu

Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Negara: Indonesia
Cetakan / tahun: 1 / 2009
Tebal: 240 hlm (paperback)
Genre: Literary fiction - drama

Dari beberapa ulasan di dunia maya yang saya baca tentang "Tanah Tabu", novel karangan Anindita S. Thayf ini merupakan Pemenang I sekaligus pemenang satu-satunya Sayembara Novel DKJ 2008. Ini jelas membuat saya penasaran: seperti apa sih isinya? Saya ingin tahu lebih banyak tentang novel yang dinilai sebagai satu-satunya yang layak diberi gelar pemenang. Wow. Maka dari itu, saya segera membelinya.

Ceritanya dinarasi secara bergantian oleh tiga tokoh: Leksi, Pum, dan Kwee. Leksi adalah anak perempuan Komen (orang asli Papua) dari suku Dani, berusia SD, yang penuh rasa ingin tahu, naif, dan suka keluyuran. Dia tinggal serumah dengan ibunya, Lisbeth (dipanggil "Mace") dan neneknya, Anabel (dipanggil "Mabel", alias "Mama Anabel"). Sehari-harinya Leksi menjalani sekolah dan permainannya ditemani oleh Pum dan Kwee, yang menjadi saksi kekejaman yang terjadi di atas Tanah Tabu.

Memang, seperti yang dikatakan oleh ulasan tersebut, salah satu daya tarik "Tanah Tabu" adalah setting ceritanya yang tidak biasa, yaitu di tanah Papua. Saya sudah bersiap-siap dibombardir dengan deskripsi panjang-lebar mengenai keindahan alam Papua, yang memang masih tergolong perawan bagi kebanyakan orang. Saya sendiri tidak keberatan, toh memang saya belum pernah ke Papua. Namun alih-alih, saya menemukan kesederhanaan. Gaya penceritaannya penuh empati lokal yang simpel dan blak-blakan, seolah-olah penulis sendiri memang pernah menetap cukup lama di Papua. Dia melihat dan menuturkan semuanya dari kacamata Komen sejati, bukan dari sudut pandang orang asing. Sungguh cantik dan menarik.

Bab pertama terasa masih mengambang. Mungkin karena tokoh-tokohnya tidak memperkenalkan diri secara gamblang, jadi saya pun agak meraba-raba. Tetapi selewat bab pertama, cerita mulai mengalir; ibarat gulungan perkamen bertuliskan dokumen kuno yang misterius, tiap halaman menyibak satu-persatu dan menunjukkan isinya yang makin lama makin menyedot perhatian. Cukup banyak permasalahan yang dibahas di buku ini, mulai dari kehadiran "para pendatang" yang mengeruk emas besar-besaran, sampai dengan pilkada yang lengkap dengan "tipu-tipu"-nya (meminjam bahasa Mabel). Bagian yang paling saya suka adalah yang pilkada ini; penulis menghadirkan jukstaposisi yang menyenangkan: bagaimana cerah-cerianya gambar dan warna-warni bendera partai ternyata menyembunyikan intrik-intrik pahit di belakang.

Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta kepada "Tanah Tabu", yaitu ukuran bukunya yang kecil. Bukannya saya tidak suka buku tebal dan besar. Tetapi, saya sering terkagum-kagum melihat buku yang kecil namun isinya padat. Seperti jagat raya yang dijejalkan ke dalam toples keripik tetapi masih enak dipandang maupun dinikmati. Buku-buku sejenis yang pernah saya baca contohnya "The Giver" oleh Lois Lowry, "Night" oleh Elie Wiesel, dan "Harimau! Harimau!" oleh Mochtar Lubis. Dan saya suka kesemuanya. "Tanah Tabu" patut ditambahkan ke dalam daftar ini.

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?