Sunday, 27 March 2011

"Aku" by Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


Maret 1943

~

"I"

If my time has come
I need not anyone to rue
Not even you

No need for all that boohoo

‘Tis a wild beast, I am
Banished from its herd

Let bullets pierce this skin
Still I strike and fume these flames
‘Tis pain and poison, I bear
While I run away
Away
‘Til these wounds disappear

And I shall even mind less

Still I live for another thousand years


March 1943



English translation is done by Urip Hudiono and Burton Raffel.

Sunday, 20 March 2011

Pergi tanpa mengetahui

Minggu, 20 Maret 2011.

"Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran."

Kej 12:1-4
Dari perikop di atas, kita bisa melihat betapa besarnya iman Bapa Abraham. Ketika itu, saat namanya masih "Abram", Abraham dipanggil Tuhan dan disuruh-Nya pergi ke sebuah tanah asing. Kepergian itu berarti Abraham mesti meninggalkan kehidupan lamanya yang sudah established, harta bendanya, dan keluarganya---singkatnya, Abraham harus keluar dari zona nyamannya untuk mengikuti arahan Tuhan ke sebuah tempat di mana Tuhan akan memulai rancangan keselamatan seluruh umat manusia.

Tetapi apakah Abraham sudah tahu mengenai detil rancangan Tuhan? Tentu tidak. Tuhan hanya menjanjikan 3 hal pada Abraham, yaitu land (tanah), seed (bangsa), dan blessing (berkat). Tuhan tidak menjabarkan bagaimana dan kapan ketiga janji tersebut akan dipenuhi-Nya. Bahkan menurut saya, kalau saya jadi Abraham, perkataan Tuhan tersebut masih agak cryptic, penuh teka-teki. Walaupun demikian, oleh karena imannya yang besar, Abraham segera berangkat tanpa ragu mengikuti petunjuk Tuhannya. Dan apakah ketiga janji tersebut tergenapkan? YA! =D

Nah sekarang mari kita renungkan. Berapa kali kita merasa bingung, cemas, waswas, takut, akan sesuatu yang baru? Pindah ke rumah di kota atau negara yang baru, memasuki jenjang kehidupan yang baru (misalnya, akan menikah), harus berbicara di dalam sebuah komunitas yang baru?

Atau mungkin, kita harus melakukan sesuatu yang lain dari harapan kita. Contohnya, kita mengambil kuliah jurusan akuntansi dan berencana kerja di bank. Namun tiba-tiba kita mendapatkan tawaran untuk membantu mengelola sebuah panti asuhan. Karena lingkungan panti asuhan dan bank sangat berbeda jauh, maka bisa saja kita merasa tidak siap atau tidak mampu.

Memang di dunia ini ada banyak sekali pilihan. Banyak sekali jalan. Kalau mau didaftar semua, bisa repot dan pasti pusing. Apalagi jika kebetulan Tuhan menganugerahkan banyak kelebihan dan talenta kepada kita. Mau diapakan semua itu? Peluang-peluang tak ada habisnya.

Seringkali jika kita sudah terbiasa pada apa yang kita pilih, kita enggan menggali lebih jauh. Jika kita sudah terbiasa dengan kehidupan di Indonesia, maka rasanya mengerikan apabila harus pergi atau tinggal di negara lain, walaupun bahasa mungkin saja bukan kendala. Jika kita sudah terbiasa dengan popularitas di satu komunitas, kita menjadi malas menyambangi komunitas baru, yang meskipun sesuai dengan diri kita, namun asing tempatnya dan asing orang-orangnya. Dan tentunya tidak ada jaminan bahwa kita akan populer lagi di sana.

Mungkin tepat itulah yang kita takutkan: tidak adanya jaminan atau kepastian. Siapa yang mau menjamin sesuatu yang baru itu akan seenak, senyaman, seindah, semenarik, sesukses, sepadan dengan yang lama? Apalagi kalau yang baru itu kelihatannya berbeda bagaikan langit dan sumur dengan yang lama!

Tetapi kita tidak boleh lupa: kita punya TUHAN. Abraham percaya kepada penyelenggaraan Tuhan atas hidupnya sehingga dia berani pindah ke tanah yang asing. Apakah kita dapat memiliki iman seperti itu? Apakah kita sudah berserah kepada Tuhan dan memercayakan segala sesuatunya kepada Dia?

Sebab kita buta. Kita tidak melihat apa yang Tuhan lihat, jika tidak dinyatakan sendiri oleh-Nya. Dan kadang-kadang pernyataan itu butuh waktu. Kadang-kadang malah kita sendiri tidak dikehendaki untuk melihat kegenapan janji Tuhan.

Abraham-lah yang menerima ketiga janji Tuhan, namun dia tidak melihat bagaimana keturunannya yaitu Ishak dan Yakub akhirnya melahirkan bangsa Israel, dan melalui Yesus Kristus, bangsa kemudian menjadi Gereja, yang besar dan beranggotakan segala bangsa di dunia. Apakah Abraham pernah kepikiran bahwa ia akan memiliki anak dari bangsa Eropa, Cina, Afrika, Amerika, Arab, Indonesia?? Namun genaplah janji-janji itu: bangsanya menjadi bangsa yang besar, nama Abraham menjadi masyhur, dan semua orang mendapat berkat Tuhan oleh karenanya. Indeed.

Lantas apakah tidak mengetahui berarti tidak boleh atau tidak bisa bersiap-siap? Salah! Malahan, persiapan yang baik adalah keharusan. Kita berharap yang terbaik dan bersiap akan yang terburuk. Persiapan kita tidak boleh "sok tahu", dalam arti yakin 100% bahwa apa yang kita persiapkan pasti sangat baik, pasti berguna, dan pasti akan dilakukan. Belum tentu. Bisa saja persiapan tersebut diperlukan, tetapi mungkin dengan cara yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Adalah penting bahwa kita terus membuka pintu hati dan akal kita akan kemungkinan-kemungkinan jalan-Nya.

Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita berjalan bersama Tuhan. Asahlah kepekaan kita terhadap panggilan Tuhan dengan banyak berdoa, mendalami dan melaksanakan Firman-Nya, rajin menerima Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Semuanya agar hati nurani kita tetap peka akan suara Roh Kudus, sehingga Roh Kudus boleh membimbing kita dalam setiap langkah kita. Dan apabila kita melihat jalan di depan kita sepertinya tidak meyakinkan, maka berdoalah! Mintalah kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan yang semestinya menurut rencana Dia. Kalau memang benar jalan-yang-kurang-meyakinkan tersebut adalah jalan-Nya, kita mohon keberanian dan kekuatan iman untuk melangkah. Yakinlah bahwa meskipun kita tidak melihat seluruh gambaran rencana Tuhan, bukan berarti rencana itu tidak berjalan atau tidak ada. Dia telah berjanji, Dia telah merencanakan, Dia akan bertindak!

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Friday, 18 March 2011

Clerkship!

So, it's official. On Monday, March 21, I will start my clerkship in Raden Said Sukanto Central Police Hospital in Kramatjati, Jakarta.



Lookie, lookie, isn't it a nice hospital? =)

For non-medicals: clerkship, or clinical clerkship is the final part of medical education. It is usually conducted on the last two years of medical school; in my case, it's on the 4th and 5th years. The program consists of scheduled rotations between rounds of different medical specialties, such as internal medicine, pediatrics, surgery, ENT, neurology, etc. This allows for medical students to experience the "real world", that is, the clinical setting and practice of medicine.

Some people think clerkship is hell. Some people think it's simply fantastic. I tend to agree with the latter. I love positive thoughts. Though it's getting rarer each day.

Book Review: Fablehaven

Title: Fablehaven
Author: Brandon Mull
Publisher: Shadow Mountain
Country: United States of America
Edition / year: 1 / 2007
Pages: 352 pages (paperback)
Genre: Fiction - fantasy, adventure

So at first I was attracted to its cover. Who wouldn't? It's glowing green and it has a perfect layout with a central focus. The central focus is rather unusual too—a curious old female with a sinister look holding a rope in a way that there is something about the rope. The figure in itself already gives an interesting premise. Of course we all want to know more, don't we?

The first of the series introduces the magical preserve of Fablehaven to the readers as well as to the main characters: Kendra and his younger brother Seth. Fablehaven houses endangered beings of the netherworld: fairies, satyrs, ogres, trolls, centaurs, and many others, including creatures of darkness. Most of the harmful creatures are kept off the yards and gardens surrounding the caretaker's house, but those magical defenses fade off on some particular nights, and those are when all things are free to wander around. One such night is approaching, when Seth fails to obey their grandfather's command, dark beings wreak havoc in the house. Kendra and Seth find themselves all alone in the morning, house badly damaged, adults missing, and now it is up to them to restore the order in Fablehaven before it's too late (because a bad bad front cover witch is on the loose!).

Fablehaven is no doubt a very good fantasy. It's a page-turner and each chapter offers challenges after challenges, quests after quests, and all are engaging to follow. Readers are made to wonder whether they are facing true harm or just some bulky mass possessing no real threat, and whether they are tracing a significant path or a random track made by innocent beings. Being an American book written by an American author, sentences are shorter and more straightforward than its British fellows. Although, in some parts this American-ness somewhat disturbs the overall magical atmosphere of the story. I'm not saying this is bad, or that America is bad---too political an interpretation for such a simple statement!---but the type of fight Kendra has with his brother, for example, the exchange of insults and interjections, sound a bit too contemporary for their surroundings. But maybe that's just me, remembering that most of my life so far I've been exposed largely to British adventure novels.

Many of the creatures are classic especially to the European folklores, but like J.K. Rowling, the author manages to add his own twist so that the familiar becomes the strange. To say that Fablehaven is the new Harry Potter, however, is a bit of an overstatement for me. Fablehaven somehow still lacks the depth of Harry Potter. Maybe this book is targeted to younger audience? I don't know. As an adult I just don't find the same eerie details and foreshadowing of the Harry Potter world in Fablehaven. In Harry Potter, you can read it again and again and still be able to recognise new things or pick up new symbolism (why didn't I see it there before??). This isn't the case of Fablehaven.

Those of you who are only looking for a great memorable story, don't worry, Fablehaven is far from being a disappointment. Truly, I even ran to the bookstore and bought the rest of the series because I was so captivated by the first book. Nevertheless, don't get your hopes too high just because you read a review somewhere saying that Fablehaven is going to replace the legacy of Harry Potter. It's not. But it WILL satisfy you enough.