Sunday, 20 March 2011

Pergi tanpa mengetahui

Minggu, 20 Maret 2011.

"Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran."

Kej 12:1-4
Dari perikop di atas, kita bisa melihat betapa besarnya iman Bapa Abraham. Ketika itu, saat namanya masih "Abram", Abraham dipanggil Tuhan dan disuruh-Nya pergi ke sebuah tanah asing. Kepergian itu berarti Abraham mesti meninggalkan kehidupan lamanya yang sudah established, harta bendanya, dan keluarganya---singkatnya, Abraham harus keluar dari zona nyamannya untuk mengikuti arahan Tuhan ke sebuah tempat di mana Tuhan akan memulai rancangan keselamatan seluruh umat manusia.

Tetapi apakah Abraham sudah tahu mengenai detil rancangan Tuhan? Tentu tidak. Tuhan hanya menjanjikan 3 hal pada Abraham, yaitu land (tanah), seed (bangsa), dan blessing (berkat). Tuhan tidak menjabarkan bagaimana dan kapan ketiga janji tersebut akan dipenuhi-Nya. Bahkan menurut saya, kalau saya jadi Abraham, perkataan Tuhan tersebut masih agak cryptic, penuh teka-teki. Walaupun demikian, oleh karena imannya yang besar, Abraham segera berangkat tanpa ragu mengikuti petunjuk Tuhannya. Dan apakah ketiga janji tersebut tergenapkan? YA! =D

Nah sekarang mari kita renungkan. Berapa kali kita merasa bingung, cemas, waswas, takut, akan sesuatu yang baru? Pindah ke rumah di kota atau negara yang baru, memasuki jenjang kehidupan yang baru (misalnya, akan menikah), harus berbicara di dalam sebuah komunitas yang baru?

Atau mungkin, kita harus melakukan sesuatu yang lain dari harapan kita. Contohnya, kita mengambil kuliah jurusan akuntansi dan berencana kerja di bank. Namun tiba-tiba kita mendapatkan tawaran untuk membantu mengelola sebuah panti asuhan. Karena lingkungan panti asuhan dan bank sangat berbeda jauh, maka bisa saja kita merasa tidak siap atau tidak mampu.

Memang di dunia ini ada banyak sekali pilihan. Banyak sekali jalan. Kalau mau didaftar semua, bisa repot dan pasti pusing. Apalagi jika kebetulan Tuhan menganugerahkan banyak kelebihan dan talenta kepada kita. Mau diapakan semua itu? Peluang-peluang tak ada habisnya.

Seringkali jika kita sudah terbiasa pada apa yang kita pilih, kita enggan menggali lebih jauh. Jika kita sudah terbiasa dengan kehidupan di Indonesia, maka rasanya mengerikan apabila harus pergi atau tinggal di negara lain, walaupun bahasa mungkin saja bukan kendala. Jika kita sudah terbiasa dengan popularitas di satu komunitas, kita menjadi malas menyambangi komunitas baru, yang meskipun sesuai dengan diri kita, namun asing tempatnya dan asing orang-orangnya. Dan tentunya tidak ada jaminan bahwa kita akan populer lagi di sana.

Mungkin tepat itulah yang kita takutkan: tidak adanya jaminan atau kepastian. Siapa yang mau menjamin sesuatu yang baru itu akan seenak, senyaman, seindah, semenarik, sesukses, sepadan dengan yang lama? Apalagi kalau yang baru itu kelihatannya berbeda bagaikan langit dan sumur dengan yang lama!

Tetapi kita tidak boleh lupa: kita punya TUHAN. Abraham percaya kepada penyelenggaraan Tuhan atas hidupnya sehingga dia berani pindah ke tanah yang asing. Apakah kita dapat memiliki iman seperti itu? Apakah kita sudah berserah kepada Tuhan dan memercayakan segala sesuatunya kepada Dia?

Sebab kita buta. Kita tidak melihat apa yang Tuhan lihat, jika tidak dinyatakan sendiri oleh-Nya. Dan kadang-kadang pernyataan itu butuh waktu. Kadang-kadang malah kita sendiri tidak dikehendaki untuk melihat kegenapan janji Tuhan.

Abraham-lah yang menerima ketiga janji Tuhan, namun dia tidak melihat bagaimana keturunannya yaitu Ishak dan Yakub akhirnya melahirkan bangsa Israel, dan melalui Yesus Kristus, bangsa kemudian menjadi Gereja, yang besar dan beranggotakan segala bangsa di dunia. Apakah Abraham pernah kepikiran bahwa ia akan memiliki anak dari bangsa Eropa, Cina, Afrika, Amerika, Arab, Indonesia?? Namun genaplah janji-janji itu: bangsanya menjadi bangsa yang besar, nama Abraham menjadi masyhur, dan semua orang mendapat berkat Tuhan oleh karenanya. Indeed.

Lantas apakah tidak mengetahui berarti tidak boleh atau tidak bisa bersiap-siap? Salah! Malahan, persiapan yang baik adalah keharusan. Kita berharap yang terbaik dan bersiap akan yang terburuk. Persiapan kita tidak boleh "sok tahu", dalam arti yakin 100% bahwa apa yang kita persiapkan pasti sangat baik, pasti berguna, dan pasti akan dilakukan. Belum tentu. Bisa saja persiapan tersebut diperlukan, tetapi mungkin dengan cara yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Adalah penting bahwa kita terus membuka pintu hati dan akal kita akan kemungkinan-kemungkinan jalan-Nya.

Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita berjalan bersama Tuhan. Asahlah kepekaan kita terhadap panggilan Tuhan dengan banyak berdoa, mendalami dan melaksanakan Firman-Nya, rajin menerima Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Semuanya agar hati nurani kita tetap peka akan suara Roh Kudus, sehingga Roh Kudus boleh membimbing kita dalam setiap langkah kita. Dan apabila kita melihat jalan di depan kita sepertinya tidak meyakinkan, maka berdoalah! Mintalah kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan yang semestinya menurut rencana Dia. Kalau memang benar jalan-yang-kurang-meyakinkan tersebut adalah jalan-Nya, kita mohon keberanian dan kekuatan iman untuk melangkah. Yakinlah bahwa meskipun kita tidak melihat seluruh gambaran rencana Tuhan, bukan berarti rencana itu tidak berjalan atau tidak ada. Dia telah berjanji, Dia telah merencanakan, Dia akan bertindak!

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?