Wednesday, 24 August 2011

Book Review: Garis Batas

Judul: Garis Batas
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Negara: Indonesia
Tebal: 528 hlm (paperback)
Genre: Travel

Waktu kecil, saya pernah berangan-angan pergi ke negara-negara Stan. Ini gara-gara saya menemukan gambar bendera aneh berwarna biru muda bergambar elang dan matahari kuning (ternyata bendera Kazakhstan). Bendera yang warna biru halusnya mencolok di antara-antara bendera-bendera negara lain yang biasanya berwarna cerah dan berani. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya melihat sepertinya negara-negara Stan ini tidak ada di dalam daftar tujuan turis manapun. Pun, tidak ada buku-buku travel yang sibuk menjajakan negara-negara misterius ini.

Terima kasih kepada Agustinus Wibowo, kini saya boleh mencicipi impian masa kecil saya meskipun hanya melalui lembar-lembar kertas. Catatan perjalanan Agustinus ini sungguh lain dari yang lain. Tadinya saya menyangka akan melihat daftar harga hotel, rumah makan, dan daftar tempat-tempat wisata yang tak boleh dilewatkan, seperti dalam banyak buku travel lainnya yang lebih banyak narsis daripada informatif.

Tetapi buku ini lain. Agustinus bertindak lebih jauh daripada sekedar mengumpulkan informasi teknis dan menjadikan bukunya just another Lonely Planet. Agustinus mengangkat bukunya menjadi sebuah karya sastra, sebuah "literatur perjalanan", bukan hanya "buku jalan-jalan". Kisah-kisah kesehariannya sebagai seorang perantau di tanah Stan, dijalin secara apik dengan pengetahuan agama, sejarah, dan budaya, baik setempat maupun dunia. Bagi yang tidak suka digurui, buku ini tidak menggurui. Buku ini justru mengajak kita untuk membuka mata serta pikiran terhadap sekumpulan negara Islam bekas Soviet yang kini menjadi bangsa-bangsa yang enigmatik, tidak terjamah, tidak terwakilkan dalam pentas global, namun ada dan bersikeras untuk hidup.

Alur cerita Agustinus cukup mampu membawa saya (dengan sukarela) masuk ke sudut-sudut terbaik dan tergelap dari tiap negeri. Di beberapa tempat sedikit tersendat, dan pada awalnya agak membosankan karena penulis sepertinya berputar-putar terus di sekitar Sungai Amu Darya (teriak saya: "Iyaaaa... saya tahu sungai itu indah, sungai itu hebat, sungai itu agung, sungai itu pemisah yang kejam, tapi lanjut dooonggg..."). Untungnya Agustinus cepat-cepat "mengungsi" ke daratan dan memulai petualangannya. Saya juga suka cara Agustinus melihat masyarakat, keadaan kota, politik, agama, dan budaya dari berbagai segi. Rasa humornya yang kering ("dry wit") cukup berhasil menambah bumbu kemalangan dalam kisah-kisahnya. (Jangan heran, buku ini memang dipenuhi dengan kemalangan, kesederhanaan, kesialan, dan ke- ke- lainnya yang membuat jantung berdebar)

Tidak akan menyesal membaca buku ini. Saya memang belum pernah melihat sendiri negeri-negerinya, tetapi saya pikir, Agustinus has done them justice :)


This review also available in: Goodreads

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?