Saturday, 10 September 2011

Bangsaku, negeriku


Katanya, orang harus bangga pada bangsa sendiri.

Katanya, orang harus bangga pada negeri sendiri.

Nasionalisme. Patriotisme. Kata-kata agung yang kerap didengungkan terutama menjelang perayaan kemerdekaan. Kata-kata yang pernah ditakuti. Kata-kata yang kini terdengar naif.

Mengapa naif?

Karena setiap kali saya menyinggung mengenai keinginan untuk memajukan bangsa, atau mengharumkan nama bangsa, atau memamerkan kekayaan budaya bangsa, biasanya reaksi yang saya dengar hanyalah cibiran, pandangan mengasihani, dan gelengan kepala.

Hare gene mikirin bangsa.

Begitu terpuruknyakah kita? Bukankah dasar sumur pun masih mendapat cahaya matahari betapapun jauhnya ia di atas sana? Atau mungkin saya telah menanyai orang yang salah? Karena jujur saja, kebanyakan jawaban demikian keluar dari mulut orang-orang minoritas. Berbagai alasan dikemukakan: minoritas tidak dihargai, minoritas tidak mungkin berprestasi, minoritas tidak layak berkarya. Jadi sebaiknya menetap saja di tanah asing dan melupakan segala identitas ke-Indonesia-an kita.

Inferiority complex.

Tetapi izinkan saya bertanya: bangsa apa yang kita sebut "bangsa saya"? Negeri apa yang kita sebut "negeri saya"? Apakah menjadi jaminan bahwa kita akan langsung melebur di tanah asing daripada di negeri sendiri? Bukankah dengan melanglang ke seberang lautan berarti kita semakin memperjelas identitas kita sebagai "orang asing", dan kemungkinan besar, "minoritas"?

Di zaman globalisasi ini, batas-batas telah mengabur. Anak-anak hasil perkawinan antar-ras ada di mana-mana. Anak-anak ini adalah warga dunia, namun anehnya, seringkali mereka bukanlah warga negara manapun. Ambil contoh saya. Mungkin ada orang "asli Indonesia" yang menganggap saya tidak cukup Indonesia. Tetapi jika saya kembali ke tanah kelahiran ayah saya pun, orang-orang sana tidak akan menganggap saya penduduk lokal. Apalagi jika saya pergi ke negeri di mana saya tidak memiliki hubungan darah sama sekali.

Saya pikir, nasionalisme adalah mengenai pilihan. Toh nasionalisme atau patriotisme itu salah satu bentuk cinta. Cinta negara, cinta tanah air, cinta bangsa. Dan cinta adalah urusan kehendak bebas. Saya telah memilih bahwa di manapun saya akan hidup, tinggal, dan berkarya nantinya, hati saya akan selalu Indonesia. Darah saya akan selalu berdesir jika nama Indonesia dipuja. Saya tidak mengandalkan hubungan darah atau takdir yang menyurati di mana saya waktu itu dilahirkan.

Saya mengandalkan pilihan secara sadar. Ini bukan persoalan politik. Ini masalah cinta.

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?