Saturday, 19 May 2012

One Direction - What Makes You Beautiful

Been repeating this song lately on my music player. And here's my very unprofessional take on the song: the music is so cheerful, so hopeful, and sweet at the same time. It lies along the same line with Bruno Mars's "Just The Way You Are". The video features a gorgeous beach. And what's more, these guys are British! 'Nuff said! ;)

You don't know-ow-ow! You don't know you're beautiful!

Friday, 18 May 2012

Kenaikan Sang Tukang Kayu

Kamis lalu umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus. Dalam bahasa Inggris, hari tersebut dikenal sebagai "Feast of the Ascension", atau "Ascension Thursday", karena jatuh pada hari Kamis. Istilah Katolik Roma menyebutnya dengan nama lengkap "Solemnity of the Ascension of the Lord".

Solemnity sesungguhnya berbeda dari feast. Terjemahan bahasa Indonesianya adalah "hari raya", sedangkan feast kita sebut sebagai "pesta nama". Menurut Wikipedia, solemnity adalah hari raya suci yang amat penting, dengan tingkat kepentingan yang melebihi hari Minggu. Solemnity biasanya memperingati peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus dan Maria, serta beberapa orang kudus lainnya yang dekat dengan mereka, seperti Santo Yosef, bapak duniawi Yesus, dan Yohanes Pembaptis, sepupu-Nya.

Sebagai gambaran, Natal, Paskah, dan Pentakosta adalah tiga contoh solemnity, masing-masing bernama resmi "Solemnity of the Nativity of the Lord", "Solemnity of the Resurrection of the Lord", dan "Solemnity of Pentecost". Sedangkan feast atau pesta nama contohnya Pesta Nama Santa Helena ("Feast of Saint Helena"), Pesta Nama Santo Benediktus dari Nursia ("Feast of Saint Benedict of Nursia"), dan lain-lain.

Saya tidak akan membahas teori liturgi atau teologi di balik hari raya ini, karena saya yakin banyak orang yang lebih kompeten dalam hal tersebut. Saya cuma mau mengambil tempat sejenak sebagai orang yang memandang Yesus dari perspektif yang 100% manusia.

Sekarang, siapakah Yesus? Orang percaya menyebut-Nya Mesias, Guru, dan Tuhan, juga Raja, Imam Agung, Anak Domba Allah. Tetapi coba tanyakan kepada orang kafir: siapakah Yesus? Jawabannya, entah a) tukang kayu, atau b) orang gila, atau c) tukang kayu yang gila. Kalau mau sedikit sopan, mungkin mereka akan menjawab Yesus itu semacam guru kebatinan, seperti halnya Siddharta Gautama, Guru Nanak, atau salah satu Wali Sanga. Intinya, sebagai manusia Yesus adalah nobody; hidupnya miskin, pekerjaannya biasa, kelahirannya hina, kematiannya lebih hina lagi. Nabi-nabi saja banyak yang hidupnya lebih layak daripada Yesus, dan setidaknya mereka diterima dalam masyarakat mereka.

Akan tetapi, pun tanpa harus mengakui ke-Allah-an Yesus, sudah jelas bahwa Yesus adalah sebuah anomali dalam sejarah manusia. Ia adalah satu-satunya manusia yang menciptakan orangtuanya sendiri, menguduskan mereka, lahir dari rahim seorang perawan, sengsara dan wafat dengan rela, dan bangkit lagi, kemudian naik ke surga. Itu kalau benar dia hanya manusia biasa. Agama tertentu mungkin tidak menyetujui penyaliban Yesus, tetapi mengakui kelahirannya yang ajaib; setidaknya itu saja semestinya sudah menjadi bukti bahwa Yesus mungkin bukan hanya manusia.

Lalu untuk apa tukang kayu yang satu ini repot-repot meninggalkan pekerjaannya untuk berkhotbah dan kemudian menyerahkan dirinya untuk mati terkutuk? Terlebih lagi, jika dia sungguh Allah, untuk apa Allah susah-susah menjadi manusia hina at the first place? Sungguh tidak waras!

Umat Kristiani kadang-kadang take for granted pengetahuan ilahi mereka tentang identitas Yesus yang sebenarnya, sehingga peristiwa-peristiwa seperti kenaikan dengan mudah diterima. Toh mereka sudah tahu Yesus itu Allah. Bukannya pengetahuan ini buruk, tentu saja, tetapi cobalah bersama-sama kita lafalkan kalimat di bawah ini:

Si tukang kayu itu naik ke surga.

Apakah sudah terasa efeknya? Belum? Kita coba sekali lagi:

Si tukang kayu miskin yang gila itu naik ke surga.


Kasar? Ya, tetapi memang itulah Yesus di mata beberapa orang: "tukang kayu miskin yang gila". Tetapi hei, dia naik ke surga! Tanpa dijemput kereta kuda! Dia naik sendiri seolah-olah Dia berkuasa atas surga.


Lantas, apakah artinya ini? Seseorang yang 100% manusia mampu hidup sedemikian rupa sehingga bangkit dan naik dengan mulia, jiwa dan raga.

Big deal, ladies and gentlemen. Itu artinya, tidak ada yang sia-sia dari kemanusiaan kita. Tubuh manusia kita tidak sia-sia. Pekerjaan kita tidak sia-sia. Hidup kita, bagaimanapun sederhananya, tidak sia-sia. Jiwa memang abadi dan tubuh akan membusuk bersama dengan tanah, tetapi itu sekarang; nantinya para orang percaya akan dihadiahi tubuh baru, tubuh FISIK baru, yang mulia dan abadi juga, sama seperti jiwanya. Tetapi bukan berarti tubuh yang sekarang sama sekali tanpa nilai. Tubuh, meski memiliki sifat-sifat kedagingan yang dapat menghambat kedekatan dengan Allah, bagaimanapun diciptakan oleh Allah dan merupakan Bait Suci Roh-Nya. Apalagi, kita yang telah memakan Tubuh-Nya dan meminum Darah-Nya, daging kita telah sungguh-sungguh bersatu dengan Daging-Nya yang mulia. Kemuliaan yang sama akan kita terima juga pada saat penggenapan di hari penghakiman nanti.

Kemudian, pekerjaan kita. "Ah, cuma ibu rumah tangga." "Ah, saya ini hanya supir angkutan umum." "Ah, saya hanya tukang sapu gereja." Beberapa orang mungkin merasa pekerjaannya terlalu memalukan, terlalu kotor, terlalu nggak banget, sehingga mereka tidak memiliki kebanggaan. Hal ini tidak terkait dengan pekerjaan itu sendiri, yang mungkin saja sebenarnya cukup "wah", seperti mahasiswa, insinyur, dokter, atau pengusaha. Tetapi orang selalu punya alasan untuk mengeluh dan bersungut-sungut. Mengapa harus demikian?

Kesombongan memang dosa, tetapi kebanggaan dalam iman tidak. Orang percaya mesti bangga karena pekerjaan mereka pun telah dikuduskan oleh Allah. Allah menghargai konsep mencari nafkah, dan itulah yang Ia lakukan semasa hidup di dunia, sama seperti kita. Semua aspek kemanusiaan telah disentuh oleh-Nya, serta dijalani-Nya dengan rela, penuh ketaatan dan kasih. Allah juga hadir dalam perkawinan (think Cana), pemakaman (think Lazarus), keadaan sakit (think the leper), pesta makan (think Matthew). Semua hal tersebut menjadi penting, menjadi bermakna, menjadi kudus, apabila dipersembahkan untuk-Nya sehingga Ia sungguh hadir dan terlibat. Berkat Allah, yang biasa menjelma menjadi luar biasa.


This man is all about woodwork: He was born in a wooden manger,
He worked as a carpenter for a living, and then He died on a wooden cross.
Talk about finding a passion in your job.


Melalui kenaikan-Nya ke surga, Yesus menunjukkan bahwa kemanusiaan telah Ia tinggikan dan mampukan dalam meraih kekudusan. Daging telah Ia ambil dan Ia kenakan sebagai pakaian kesengsaraan maupun kejayaan. Daging itulah yang kita pecahkan dan kita santap setiap minggu. Melalui persatuan dengan Daging dan Jiwa-Nya yang bangkit dan naik ke surga, kita mempunyai harapan penuh iman bahwa daging dan jiwa kita pun akan Ia bangkitkan dan angkat ke surga.

O RLY?!


Buah pertama keselamatan: Maria ibunda Yesus diangkat ke surga dengan seluruh jiwa dan raganya. Sebagai wujud Gereja yang ideal, yang telah mengalami persatuan dengan Tubuh dan Darah Tuhan, Maria membuktikan betapa kekudusan dan hidup abadi sangat mungkin diraih oleh siapapun, pria dan wanita, miskin dan kaya, apapun pekerjaannya, apapun bangsanya.

Saturday, 12 May 2012

If I could go back in time...

...would I change it all?


Last week I had the opportunity to do one of my all-time favourite activities: girl-talk with mum. I asked her, over a bowl of fruit salad and a glass of oatmeal drink, was she pleased with choosing medicine and being a doctor as her life path? Had she ever regretted her decision? Had she envied the lives of her non-medical friends?

Before I go on, let me tell you: at that time, I was experiencing my lowest point. A low point in life for me is when I suddenly lose interest in what I'm doing. It's when I suddenly stop and think, What am I doing right now? What's the point of this? Am I actually getting somewhere? Or am I just torturing myself and pretending that I'm going forward while in reality I'm dead-stuck? Then usually I would look around and find my friends in other fields seem to bathe in the joy of a simple life with no pressure, no night shifts, no carefully calculating dosages of medications or measuring people's urine output every 8 hours.

I have to admit, I get very jealous sometimes. I especially envy people who work in the creative industry.  Those who know me well, know that in addition to being science-minded, I'm also very artistic. One high school teacher once told me that I have a balanced brain. I'm proud of this identity, and if there's one thing I fear in life, it would be giving up one side of my brain. Sometimes I worry that medicine demands so much of my scientific side that I forget how to paint a beautiful tree, or how to describe an alien planet from imagination.

But anyway, here's my mum's answers: 1) yes, she is pleased with her decision, 2) no, she had never regretted it, and 3) no, she had never envied her non-medical friends. What the hey? My first impulse was to push her a bit, to find out if she was lying just for the sake of encouraging me. But I decided to ask her this instead: WHY?


And mum being the ever-so-prepared mum, she gave me these:

1) She is pleased with her decision because being a doctor is all she had ever wanted.

2) She had never regretted her decision because of the same reason above.

3) She had never envied her non-medical friends because thanks to medicine, she knows what her friends don't.

My mum always describes medicine almost as a sacred field, exclusively handed down to only a select handful. And she has always known that she's meant to be a doctor. Nice one, I think, but unfortunately my life goal isn't that sharp just yet. There are a lot of things I want to experience, and I have this strange desire to be remembered as Anna who is a... [insert a main job] but is also a.... [insert another cool job here] and a.... [maybe another one would do?]. In short, I don't want to be easily categorized and thus stereotyped. Yes, this might be my ego speaking, but at least my ego is honest. And the problem is, right now medicine is starting to drown me further and deeper into itself.



There are indeed times when I am proud, and happy, that I am in medicine. I won't deny, there is certainly that feeling that everybody looks up to you. Especially if you live in a third world country. Historically, a healer is the king's advisor and often also a high priest. Going from that tradition, lots of people will automatically trust you when you are a doctor. If you are a good person, that will give you a sense of being humbled, of having a huge admirable responsibilities.

The uniqueness of being a doctor, I think, is that we are strangely intimate with our patients. Maybe even without us realizing it. We doctors, we come to care about strangers who we normally don't give a damn. Patients will tell us about their urine, feces, sexual habits, and God knows what else, just because we casually ask them. Patients will go naked for us. Patients will let themselves pricked, punctured, sliced, invaded, by us, because they trust us so much. Most of us will just be coolly professional about this, but think about it for a moment.

Then the intimacy gets a little overwhelming. Sometimes patients seem to forget that we are mere humans, just like them. We need food. We need sleep. (Heck yeah, we NEED sleep!) We need some "me" times. We need relationships. We need a TV show to laugh at, music to enjoy, our own family to care for. Normally people would understand this and refrain from asking for help when they think the other party is unavailable. But when you are a doctor, or a med student even, people will be more comfortable of asking your help ANYTIME. They don't care if your legs are starting to feel like they are coming off. They don't care if your sanity is slowly slipping away. Patients, I'm not blaming you, but have you ever considered that your presence in the ED / clinic / ward could turn us a little less healthy?

That being said, I have finally decided that I am grateful to be a [future] doctor. Why? Because as a Christian, you're supposed to love until it hurts. Sure you can do that in any other fields, but medicine certainly provides the second best opportunity after priesthood, to be in total service for others. It is a neverending school of God's divine love.

So the question: If I could go back in time, would I change it all? Very likely that I would, but then the regret will be unbearable.