Sunday, 24 June 2012

Unfolding the Rosebud




It is only a tiny rosebud, 
A flower of God's design; 
But I cannot unfold the petals 
With these clumsy hands of mine.

The secret of unfolding flowers 
Is not known to such as I. 
God opens this flower so sweetly, 
When in my hands they fade and die.

If I cannot unfold a rosebud, 
This flower of God's design, 
Then how can I think I have wisdom 
To unfold this life of mine? 

So, I'll trust in Him for His leading 
Each moment of every day. 
I will look to Him for His guidance 
Each step of the pilgrim way. 

The pathway that lies before me, 
Only my heavenly Father knows. 
I'll trust Him to unfold the moments, 
Just as He unfolds the rose.


Unfolding the Rosebud by Bryan T. Burgess

Lab fishbones

This morning I had a happy accident.

I stumbled on a tweet by the ever-enlightening Dr. K (@medschooladvice) where he posted a link to a rounding sheet he once used. Brilliant, I could've used that for EVER. On that sheet, however, I spotted two curious shapes in the labs boxes, each made of lines crossing each other seemingly in a purposeful manner. I had never seen such things before. Someone else, probably one of Dr. K's fellow followers, helped answer my question, saying that those are called "lab skeletons" or "lab fishbones".

So I googled that and I found that these skeletons are helpful device to record of lab results in a very compact way. Here are some fishbones and their codes for you to use:



Coffee Theory


Tuesday, 19 June 2012

Book Review: Madre

Judul: Madre
Penulis: Dee
Penerbit: Bentang Pustaka
Negara: Indonesia
Tebal: 160 halaman
Genre: Literary fiction, kumpulan puisi, kumpulan cerpen

Tadinya saya membaca buku ini di toko buku (dan berhasil selesai!) dan tidak berniat beli. Entah kenapa, Madre tidak se-menggoda Filosofi Kopi. Apa karena warna sampulnya yang oranye yang tidak begitu saya suka, entahlah. Pertama kali yang saya baca dari buku ini adalah puisi-puisinya. Seperti biasa, puisi Dee itu simpel, bahasanya lugas, namun cerkas; tidak mendayu-dayu namun romantis juga. Sementara itu, kisah utama tentang Madre si adonan biang, bagi saya awalnya tidak terlalu menarik. Apalagi, cerita ini sekaligus juga yang terpanjang. Nggak ngerti apa maksudnya menceritakan sebongkah adonan sepanjang itu. Tapi ya karena sudah terlanjur percaya sama Dee, saya paksakan juga membacanya. Dan akhirnya selesai juga satu buku ini.

Secara keseluruhan, Madre bernuansa lebih lembut daripada Filkop. Ya sesuai mungkin ya, dengan tema utamanya. Satu tentang roti yang soft, satunya lagi tentang kopi yang tajam. Satu lebih abstrak, satunya lebih praktis. Memang saya lebih suka yang kedua. Lebih nyantol di memori, tanpa perlu kehilangan sense of wonder-nya.

Madre sendiri berbicara seputar kehidupan yang bersumber dari benda mati ("Madre"), komunikasi dalam diam antara ibu dengan janinnya ("Rimba Amniotik"), pencarian jodoh seorang laki-laki berdasarkan tanda-tanda alam yang misterius ("Have You Ever?"), evolusi drastis yang dapat terjadi dalam diri seorang manusia ("Guruji"), dan jiwa bebas seorang perempuan yang pada akhirnya mendarat di tanah yang lama ("Menunggu Layang-layang"). Membaca cerpen-cerpen dalam Madre itu seperti diajak berkelana tak tentu arah, mencari sesuatu yang tidak jelas, tapi pokoknya mencari sesuatu, dengan harapan sesuatu itu ada, meskipun belum tentu juga ada. Bukan berarti ceritanya jadi jelek sih. Tetapi, bersama Madre, memang kita tidak ditakdirkan untuk menjejak bumi.


This review is also available on Goodreads.

Monday, 11 June 2012

Barangkali



Jika balon ini kulepas
membubung ke langit luas,
Barangkali,
ia akan sampai
ke awan-awan
tempat ke mana angan menguap.
Dan barangkali,
barangkali indah,
jika air hujan jadi mutiara
bergelayut di ujung matamu
sebuah memori yang lampau
yang mengkristal oleh waktu;
barangkali, ia pun boleh abadi.
Dan jika perahu kertas ini
boleh mampir ke hatimu
dan mengobarkan asamu
barangkali saja, aku 'kan bahagia
dan, barangkali, kamu akan cinta.


Juni 2012