Thursday, 6 September 2012

What do you want for your birthday?

Classic question. What do you want for your birthday?

Simple, and yet it never ceases to puzzle me. What do I want for my birthday?

I always have this kind of problem. There are things that I need, there are things that I want, and then there are other things that I deeply desire. In a normal situation ("normal" defined as non-birthday), I could easily list them one by one. But when someone actually asks me, I usually fall speechless.

Saya mencoba untuk menjawab kenapa koq susah sekali bagi saya untuk merespon pertanyaan yang satu itu. Apakah karena ada terlalu banyak hal yang saya inginkan? Mungkin. Apakah karena keinginan-keinginan saya terlalu absurd? Ya beberapa memang agak konyol sih. I'm a professional troll after all.

Tapi sejujurnya bukan itu. Saya susah menjawab karena saya tahu apa yang saya inginkan itu bisa berubah dengan cepat. Sekarang maunya begini, nanti maunya begitu. Kalau saya memberi jawaban A, bisa-bisa nanti saya malah kepingin B. Saya takut menyesal, takut mengecewakan orang yang sudah capek-capek memberikan apa yang saya minta. Bagi saya, lebih baik mereka memberi tanpa saya harus meminta secara spesifik.

Lagipula, saya juga bingung karena semakin saya mengutarakan suatu permintaan, semakin saya menyadari bahwa permintaan itu worthless, egois, dan sesungguhnya tidak terlalu perlu. Memang, beberapa hal di dunia ini boleh dinikmati just because. Dan toh saya juga punya guilty pleasure. Tetapi kalau harus meminta dari orang lain (sebagai hadiah ulang tahun, lagi!), rasanya koq sia-sia.

Because I know that I cannot trust even myself with this stuff, I turn to God for suggestions. What does God want for me? What should I ask from Him? Tentunya saya ingin jawaban saya menyenangkan hati Tuhan, seperti Raja Salomo yang menyenangkan hati-Nya dengan meminta kebijaksanaan alih-alih kekayaan atau kekuasaan. Saya selalu berusaha menyelaraskan keinginan terdalam saya dengan kehendak Tuhan. Masalahnya, yang namanya keinginan terdalam, hasrat jiwa, bahasanya pun bahasa jiwa. Tidak mudah untuk diutarakan. Semakin sederhana konsepnya, maka semakin sulit kata-katanya. "Saya ingin cinta". "Saya ingin kedamaian". "Saya ingin hidup yang baik". Orang mana yang tidak akan bingung atau kesal bila dimintai hal seabstrak itu?

Kedua, sebuah fakta yang pasti: tiap-tiap hari merupakan proses pendewasaan. Perubahan. Perkembangan. Saya hari ini berbeda dengan saya yang kemarin. Tidak semua hal yang saya inginkan hari ini survive sampai besok. Dan yang bisa survive hanyalah hal-hal yang abstrak itu tadi. They are never-ending desires. Never enough, never sated. Benda-benda di dunia, bagaimanapun indahnya, dahsyatnya, dan bagaimanapun senangnya kita saat menerimanya, itu hanyalah icip-icip dari hasrat jiwa yang sejatinya, yaitu yang kekal dan yang benar.

Maka dari itu, janganlah heran kalau saya tampak bingung ketika ditanyai, seolah saya tidak tahu apa yang saya mau. Saya tahu, koq. Tetapi tidak ada yang bisa mengerti atau memenuhinya dengan tepat selain Tuhan. Saya pikir akan lebih baik kalau memohon langsung pada Tuhan saja. Bukannya saya tidak senang diberi hadiah atau kue lho! Tetapi kalau memang berniat menghadiahi saya, silahkan pilih sendiri, tidak perlu bertanya, karena apapun yang diberikan kepada saya akan saya hargai betul-betul. Mencari tahu apa persisnya yang saya idamkan adalah percuma saja.

"I wonder if I've been changed in the night?
Let me think: was I the same when I got up this morning?
I almost think I can remember feeling a little different.
But if I'm not the same, the next question is,
Who in the world am I? Ah, that's the great puzzle!"
-Lewis Carroll, Alice's Adventures in Wonderland-

No comments:

Post a Comment

Any thoughts...?